Jenang Gula adalah dodol yang terbuat dari beras ketan yang dipadu dengan larutan gula merah , sungguh betapa manis dan lezat rasa kesederhanaan itu. Ber-Asal dari beras ketan beserta dengan gula merah saja, sebuag paduan dari dua bahan alamiah tanpa bahan pengawet buatan. adapun kandungan makna Rasa dari cuplikan lagu jawa tersebut adalah bermakna agar kita diingatkan
Kiranya manusia tak akan bersalah bila memiliki
kemampuan mengintip apa rencana tuhan ?
Kalau memang tuhan tak menghendaki rencananya diintip/diketahui mahluk,
pastilah tuhan akan “mengunci dan menutup rapat” mata setiap manusia, agar
supaya rencanaNya tetap menjadi X File yang untouchable
oleh kesadaran manusia setinggi apapun juga.
Logikanya, jika suatu kejadian
futuristik dapat diketahui oleh manusia yang mau mengolah dan menajamkan batin,
tentu bukanlah merupakan suatu larangan bagi tuhan. Dengan kata lain,
tuhan membiarkan manusia mau peduli untuk mengetahui atau cuek-cuek saja akan
apa yang terjadi di masa mendatang.
Apa untungnya ? Tentu saja bagi orang yang
sempat mengetahui apa yang akan terjadi di masa mendatang (kejadian futuristik)
dapat mempersiapkan diri menentukan langkah antisipatif, mengevaluasi dan
mengoreksi diri pribadi beserta lingkungan sosialnya.
Sukma
Sejati Sebagai Dasar Kawaskitan ?
Waskita, atau cermat
dan awas dalam penglihatan batin. Memiliki ketepatan dan akurasi tinggi dalam
membaca hahasa alam. Semua kemampuan itu tidaklah semata berdasarkan kemampuan
ragawi, kemampuan otak. Kita semua mungkin sepakat memahami agama, keyakinan
berikut kegaiban tak perlu adanya dominasi otak, nalar, logika, atau apalah
sebutannya. Tetapi kita lupa bahwa instrumen otak yang telah mampu
mensinkronkan diri dengan kesadaran sukma akan dapat menerima berbagai
peristiwa gaib sebagai sesuatu yang sangat masuk akal. Jika masih dianggap
mengada-ada tak masuk akal, hal itu
dikarenakan otak belum mampu menerima kesadaran sukmawi.
Demikian sebaliknya,
jika memahami suatu keyakinan hanya berdasarkan “katanye”, jarene, tentu saja masih akan dicerna dan
dikelola oleh otak kiri secara dominan. Akibatnya terjadi stagnansi dalam
kesadaran spiritualnya, bahkan yang paling parah adalah tidak sadar jika diri kita sedang tidak sadar. Karenanya, dogma
yang hanya dipahami secara mentah-mentah, teksbook, harfiah tanpa adanya upaya
pemahaman secara kontekstual, esensial, dan hakekat, ia cenderung membelenggu
kesadaran kita. Kesadaran kita bagaikan terperangkap masuk ke dalam “kapsul” kesadaran
semu. Alias kesadaran di dalam “goa”, kesadaran yang masih di dalam
“tempurung”.
Ada orang yang tahu kapan raganya akan mati.
Bukan berarti ia harus seorang yang sakti mandraguna. Tidak. Ia masih manusia
yang biasa dan wajar-wajar saja, hanya menyadari jika menjalani hidup ini perlu
membawa-bawa “kembang kanthil”
kemanapun ia pergi. Kanthil sebagai
gambaran untuk seseorang yang dalam kehidupan sehari-harinya selalu menerapkan
pepatah,”ngelmu iku kalakone Kanthi Laku (kanthil), lekase kalawan kas, kas iku tegese
nyantosani”. Senantiasa membuat sentausa (keselarasan, keseimbangan dan
harmonisasi) kepada seluruh mahluk dan lingkungan alam. Dengan begitu, “kabel”
penghubung antara sukma sejati dengan ragasejati akan turn on. Terjadi sinkronisasi antara tata-batin dengan
tata-lahir. Tak berhenti di sini, kita masih harus mengimplementasikan apa yang
diketahui sang rasa-sejati ke dalam
kehidupan sehari-hari. Sehingga menjadikan pribadi yang mampu nuruti kareping rahsa. Maka diri kita akan
mudah merasakan, mengalami, suatu noumena spiritual yang melampaui dimensi
ruang dan waktu, serta mampu memanfaatkan kejernihan mata batin dalam mengupas
berbagai persoalan dan peristiwa di dalam wilayah mikrokosmos dan makrokosmos.
Pada masa lampau
banyak orang sakti karena mau memahami suatu ajaran kebaikan melalui sisi
kesadaran hakekatnya. Sebaliknya generasi zaman sekarang cukup puas pada
kesadaran otentik, harfiah, kulit, walau berakibat dinamika kesadarannya
menjadi mandeg pada kesadaran ragawi. Yaah…cari
amannya saja. Seperti prinsip yang diterapkan oleh pelaku bisnis yang
gagal. Daripada tersandung, lebih baik “berpenghasilan” minim sekali, dan
sesekali menjadi pengemis dari pada berani berspekulasi menjelajah ke dimensi
spiritual, walau buahnya bisa berupa “penghasilan” berlimpah.
Bye Sabda langit Blog-Thank's
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan Komen...!