Nak, saatnya engkau berpacu dengan hari-harimu ...
hari hari dimana kau melukiskan sesuatu tentang hidup-mu, arahkan pensilmu dengan gemulai jemarimu agar lukisan takdir hidupmu kian nyata untuk engkau lihat, sebab semakin kau jauh berjalan menapaki kehidupanmu, kau tak bisa kembali kepada masala lumu sehingga engkau harus terus berlari menuju hari esok yang kita tidak tahu akan terisi dengan apa kanvas putih itu akan tergambar.
Hiasilah nuansa hidupmu dengan apa yang engkau suka, dan sisihkan yang jelek dari pandangan orang-orang yang membencinya.
Saat kau pulaskan rona-rona warna hidupmu tetaplah berpedoman bahwa realigi / iman itu tetap kau junjung, karena dialah pedoman untuk menuju jalan kebaikan. Agar engkau tidak lupa bahwa segala sesuatu itu pasti ada aturannya. Bukan berarti kebebasan itu tak ada yang menilai, karena kita tetap harus waspada bahwa segala sesuatu itu pasti ada baik dan buruknya, ada yang suka dan ada yang benci. Jadi cobalah engkau untuk bersosialisasi dengan keadaan sekelilingmu, karena merekalah kompas petunjuk yang akan memberikan kamu pilihan kemana langkah / goresan pinsilmu itu akan bergerak.
Nak... masih terlalu panjang jalan hidupmu, dan harus banyak bekal kesabaran untuk melaluinya, jika pahit hidup itu sudah dapat kau rasa, itu adalah awal untuk bangkit mencari manis gula-gula itu. Dan tidaklah mudah untuk mendapatkan rasa masin itu tanpa perjuanganmu untuk mengalahkan semut-semut yang sama-sama suka rasa manis madunya dunia.
Jangan engkau merasa lelah Nak...
Berjalan dan teruslah berjalan hingga jauh menembus ujungnya dunia dari sudut yang tak bertepi. Suatu saat engkau akan sampai pada sebuah pelabuhan, pada sebuah tempat persinggahan yang teduh, yang banyak keramaian, yang banyak makanan, pada saat itupun engkau tak boleh terlena dan tertidur melainkan tetaplah terjaga agar engkau tidak terjebak pada sebuah belenggu kemerdekaan-mu yang bisa membuatmu beku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan Komen...!