Sabtu, 20 Juli 2013

Jenang Gula, Kowe Ojo Lali...

Jenang Gula adalah dodol yang terbuat dari beras ketan yang dipadu dengan larutan gula merah , sungguh betapa manis dan lezat rasa kesederhanaan itu. Ber-Asal dari  beras ketan  beserta dengan gula merah saja, sebuag paduan dari dua bahan alamiah tanpa bahan pengawet buatan. adapun kandungan makna Rasa dari cuplikan lagu jawa tersebut adalah bermakna agar kita diingatkan
  
Kiranya manusia tak akan bersalah bila memiliki kemampuan mengintip apa rencana tuhan ?
Kalau memang tuhan tak menghendaki rencananya diintip/diketahui mahluk, pastilah tuhan akan “mengunci dan menutup rapat” mata setiap manusia, agar supaya rencanaNya tetap menjadi X File yang untouchable oleh kesadaran manusia setinggi apapun juga.
 Logikanya, jika suatu kejadian futuristik dapat diketahui oleh manusia yang mau mengolah dan menajamkan batin, tentu bukanlah merupakan  suatu larangan bagi tuhan. Dengan kata lain, tuhan membiarkan manusia mau peduli untuk mengetahui atau cuek-cuek saja akan apa yang terjadi di masa mendatang.
 Apa untungnya ? Tentu saja bagi orang yang sempat mengetahui apa yang akan terjadi di masa mendatang (kejadian futuristik) dapat mempersiapkan diri menentukan langkah antisipatif, mengevaluasi dan mengoreksi diri pribadi beserta lingkungan sosialnya.
 
Sukma Sejati Sebagai Dasar Kawaskitan ?
Waskita, atau cermat dan awas dalam penglihatan batin. Memiliki ketepatan dan akurasi tinggi dalam membaca hahasa alam. Semua kemampuan itu tidaklah semata berdasarkan kemampuan ragawi, kemampuan otak. Kita semua mungkin sepakat memahami agama, keyakinan berikut kegaiban tak perlu adanya dominasi otak, nalar, logika, atau apalah sebutannya. Tetapi kita lupa bahwa instrumen otak yang telah mampu mensinkronkan diri dengan kesadaran sukma akan dapat menerima berbagai peristiwa gaib sebagai sesuatu yang sangat masuk akal. Jika masih dianggap mengada-ada tak masuk akal, hal itu dikarenakan otak belum mampu menerima kesadaran sukmawi.

Demikian sebaliknya, jika memahami suatu keyakinan hanya berdasarkan “katanye”, jarene, tentu saja masih akan dicerna dan dikelola oleh otak kiri secara dominan. Akibatnya terjadi stagnansi dalam kesadaran spiritualnya, bahkan yang paling parah adalah tidak sadar jika diri kita sedang tidak sadar. Karenanya, dogma yang hanya dipahami secara mentah-mentah, teksbook, harfiah tanpa adanya upaya pemahaman secara kontekstual, esensial, dan hakekat, ia cenderung membelenggu kesadaran kita. Kesadaran kita bagaikan terperangkap masuk ke dalam “kapsul” kesadaran semu. Alias kesadaran di dalam “goa”, kesadaran yang masih di dalam “tempurung”.

Ada orang yang tahu kapan raganya akan mati. Bukan berarti ia harus seorang yang sakti mandraguna. Tidak. Ia masih manusia yang biasa dan wajar-wajar saja, hanya menyadari jika menjalani hidup ini perlu membawa-bawa  “kembang kanthil” kemanapun ia pergi. Kanthil sebagai gambaran untuk seseorang yang dalam kehidupan sehari-harinya selalu menerapkan pepatah,”ngelmu iku kalakone Kanthi Laku (kanthil), lekase kalawan kas, kas iku tegese nyantosani”. Senantiasa membuat sentausa (keselarasan, keseimbangan dan harmonisasi) kepada seluruh mahluk dan lingkungan alam. Dengan begitu, “kabel” penghubung antara sukma sejati dengan ragasejati akan turn on. Terjadi sinkronisasi antara tata-batin dengan tata-lahir. Tak berhenti di sini, kita masih harus mengimplementasikan apa yang diketahui sang rasa-sejati ke dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga menjadikan pribadi yang mampu nuruti kareping rahsa. Maka diri kita akan mudah merasakan, mengalami, suatu noumena spiritual yang melampaui dimensi ruang dan waktu, serta mampu memanfaatkan kejernihan mata batin dalam mengupas berbagai persoalan dan peristiwa di dalam wilayah mikrokosmos dan makrokosmos.

Pada masa lampau banyak orang sakti karena mau memahami suatu ajaran kebaikan  melalui sisi kesadaran hakekatnya. Sebaliknya generasi zaman sekarang cukup puas pada kesadaran otentik, harfiah, kulit, walau berakibat dinamika kesadarannya menjadi mandeg pada kesadaran ragawi. Yaah…cari amannya saja. Seperti prinsip yang diterapkan oleh pelaku bisnis yang gagal. Daripada tersandung, lebih baik “berpenghasilan” minim sekali, dan sesekali menjadi pengemis dari pada berani berspekulasi menjelajah ke dimensi spiritual, walau buahnya bisa berupa “penghasilan” berlimpah.

Bye Sabda langit Blog-Thank's

Jumat, 19 Juli 2013

Ujar Para Madina...

Endi ingaran sembah sejati
Aja nembah yen tan katingalan
Temahe kasor kulane
Yen sira nora weruh
Kang sinembah ing dunya iki
Kadi anulup kaga
Punglune den sawur
Manuke mangsa kenaa
Awekasa amangeran adam sarpin
Sembahe siya-siya

In Memoriam . . .

Bunda.....
Terima kasih atas waktumu karena...
Engkau telah membesarkanku...
Dan kasih sayangmu nan tulus
semua pengorbanan dirimu tak kenal lelah
walau sampai dialtar Kabah Engkau berjuang
Demi seorang anak seperti aku...

Diusiaku menjelang 40 tahun ini...
Perkenankanlah aku memohon ampunanmu...
Karena aku tak bisa menjagamu
Tak bisa menemani kesendirianmu
belum bisa membahagiakanmu
dan aku mohon ampun karena
tak bisa menghantarkan bunda saat ...
hingga Bunda kembali kehadiratnya...


Innalillahi wa inna illaihi Rajiu'un..17 / 06 / 2013  02.15 Wib
IllaRuhi Suwarni Binti Marta Sengari lahaumul fate'ah....